Rabu, 20 Maret 2019

TETEH PEREMPUAN JUDES YANG SELALU BIKIN GEMES

TETEH PEREMPUAN JUDES YANG SELALU BIKIN GEMES
TETEH PEREMPUAN JUDES YANG SELALU BIKIN GEMES
Indobet7, Cerita Dewasa - Perkenalkan nama saya Aldo, disini saya akan menceritakan cerita sex pribadiku dengan istri pamanku. Ketika itu aku sedang liburan di kota yang dikenal sebagai kota kembang (Bandung). Saat itu disana aku bermalam dirumah Paman saya atau tepatnya adik dari Ibuku yang paling terakhir. Ibuku 6 bersaudara dan Ibuku adalah anak yang paling pertama. Ketika itu aku masih berusia 21 tahun dan pamanku berumur 33 tahun.

TETEH PEREMPUAN JUDES YANG SELALU BIKIN GEMES

Pamanku ini sudah berumah tangga, nama istrinya adalah Teteh Dewi yang berumur 28 tahun. Bila dilihat dari usia mereka berdua memang agak terlalu jauh selisih usianya. Teteh Dewi ini bisa dibilang seorang istri yang cantik dan mempunyai bentuk body yang kecil tetapi bohay. Asal pembaca tahu saja, pantat Teteh Aldo ini bebar-benar kencang dan semok, pokoknya mantep deh.

Ditambah lagi Teteh Aldo ini mempunyai pinggang yang singset atau sexy. Walaupun Teteh Aldo sudah menikah kurang lebih 2 tahun dengan pamanku, perutnya masih singset sekali para pembaca. Tapi maklum sih, karena sampai sekrang mereka belum dikaruniai seorang momongan. Oh iya, Teteh Aldo ini ada minusnya sih para pembaca, dia cantik namun judes sekali orangnya.

Teteh Dewi ini berasal dari keluarga yang sangat kaya raya, dia hanya 2 bersaudara. Teteh Dewi ini mempunyai adik perempuan yang bernama Nita, usia mita kira-kira 22 tahun, dan dia kuliah di salah satu universitas negri di bandung. Nita ini juga tiggal diruah Teteh Shinta. Selama aku berada dirumah Paman, hampir setiap hari Teteh Dewi mengomel padaku, tapi saya cuek aja.haha.

Sebenarya Teteh Dewi ini memang sangat tidak suka apabila aku menginap dirumahnya. Hal itu wajar aja sih, karena aku memang termasuk anak yang nakal dan bandel, hehe.

Dalam usiaku yang masih 21 tahun, jika dilihat dari postur tubuh, aku memang terlihat dewasa, karena aku mempunyai tinggi badan 176cm, berat badan 70 kg dan tubuhku juga proposional. Oh iya para pembaca, aku ini dari keluarga yang bisa dikatakan keluarga tidak mampu, maka dari itu Teteh Dewi selalu saja mencurigai aku, jika aku sering menerima uang dari pamanku. Pada kenyataanya pamanku sangat jarang memberi aku uang, mungkin saja dia takut dengan istrinya yang judes itu.
Saat ini aku menginap di rumah mereka, sebenarnya karena terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan Ibu saya memberitahukan kepada Paman saya yang memaksa aku tinggal dirumah mereka. Singakt cerita, Hari ini entah mengapa aku merasa bosan sekali. Mungkin saja kebosananku ini berasal dari Teteh Dewi yang selalu menunjukan muka cemberut terhadap saya.

Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, paman sudah pergi kekantor, Nita adik Teteh Dewi sedang pergi kuliah, Bik Saroh sedang pergi ke pasar, dan Teteh Dewi katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi, dengan nada yang setengah membentak, Teteh Dewi menyuruh aku menjaga rumah. Dalam fikiranku saat itu dari pada boring, mendingan aku nonton BF aja di kamar.

Mulailah TV kunyalakan, kuambil kaset porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta celana dalam-ku sendiri. Kejantanan saya yang sedari tadi sudah tegak, lalu kukocok perlahan.
Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam kejantananku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau Klimaks, tiba-tiba?

? Aldo? apa yang kamu lakukan!!?, ucap seseorang.

Setelah aku terdiam sejenak, ternyata suara itu adalah suara seseorang seperti yang aku kenal yaitu teteh Dewi. Lalu,

? E? eee? nggak lagi ngapa-ngapain Teh? ?, jawabku terbata-bata.

Sungguh saat itu aku kaget dan sangat bingung harus berbuat apa. Aku tidak mengira kalau Teteh Dewi yang tadi katanya pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati Teteh Dewi yang cantik tapi judes itu. Saat itu Teteh Dewi yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata yang melihat keadaanku yang telanjang bulat.

Ditambah lagi kejantananku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh Teteh Dewi yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas.

Sehingga saat itu Teteh Dewi hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak mendongak keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Seketika saat itu badan Teteh Dewi mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu.

Sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas, lalu teteh Dewi berkata,

Aldo? jangan kurang ajar ya? berani benar kau ini? ingat, Do? Aku ini istri Paman kamu? !!! Cepat lepas? nanti kulaporkan kau ke Paman kamu? ?, teriak Teteh Dewi dengan suara garang mencoba mengancamku.

Aku tak lagi peduli, salah Teteh Dewi sendiri sih, orang mau Klimaks kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua buah dada-nya walaupun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai Teteh Dewi menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu.

Saat itu ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajarkan sopan santun padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Saat itu Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara Teteh Dewi terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki.

Saat itu entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meremas-remas seluruh tubuhnya sambil terus mencium bibirnya dengan liarnya. Saat itu dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi, dengan badan yang atletis dan berotot.

Hal ini membuat teteh Dewi tidak berdaya, karena postur tubuh teteh Dewi yang mungil. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari Teteh Dewi, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Karena saat itu aku merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari Teteh Dewi, aku mulai mengosok-gosokan kejantananku pada perutnya.

Setelah itu aku meraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke kejantananku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok kejantananku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya. Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju Teteh Dewi, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku.

Namun semua itu percuma saja, tangan kanan mengunci kedua tangannya dan tanganku yang kiri membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya. Hal itu secara tidak langsung mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan Bra-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke buah dada Teteh Dewi yang padat berisi?

Aldooooo? aaammmpuun? Dooooo? iiingaaattttt? Aldoooo? !!!?, ucapnya.

Belum selesai dia berbicara, aku-pun mencium dan melumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kewanitaan-nya yang masih tertutup celana dalam mungilnya itu.

? Doooooooo? Oughhhh? Aghhhhh? Ssssss? Aghhhhh? Aldooooo? ?, desah Teteh Dewi.

Akibat perlakuanku itu, kayaknya Teteh Dewi mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh Teteh Dewi bergetar dengan kuat dan?
Aghhhhh? Aldooooo? ja? jangaaannn? Aldoooo? ? iiii? ngaaaatttt? Oughhhh? aghhhhh? aghhhhh??, desahnya meronta.

Pada akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap tubuhku dan,
? Syurrrrrr? Syurrrrrr? Syurrrrrr? Syurrrrrr??, akhirnya cairan kewanitaan Teteh Dewi membasahi celana dan jemariku.

Setelah masa Klimaksnya berlalu, terasa badan Teteh Dewi melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai Klimaks itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.

Kami terdiam sejenak, sementara tubuh Teteh Dewi bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik Teteh Dewi masih menggenggam kejantananku yang masih tegak mengacung. Akhirnya secara perlahan-lahan kepala Teteh Dewi menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku.

Sehingga saat itu menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya?

Oughhhhh? Aldooo, apa yang kau perbuat pada Tetehmu ini? ? ??????,

Maafkan Aldo Teteh? Aldo lupa diri? abis Teteh tadi masuk tiba-tiba selagi Aldo akan mencapai klimaks? salah Teteh sendiri sihhh? ? lagi pula? Teteh amat cantik sihhh? !!!!!!?, ucapku mencari-cari alasan sekenanya.

Sekarang kayaknya Teteh Dewi sudah pasrah dan sambil tanganya masih menggenggam kejantananku katanya lagi?

Aldoooo? punya kamu gede amat yaaaa? ????. Punya Paman kamu nggak sampai segede ini? !!?, ucap teteh mulai menggoda.

Teteh bisa aja deh? memangnya benar ya Teh ? ?, jawabku.

Memang sih, kejantanan-ku panjangnya 17cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik Teteh Dewi yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan kejantananku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan Teteh Dewi tak mau lepas dari situ.

Teh? kok diiiii? dii? diemin aja, dikocok dong, Teh? biar
enaaakkk? !!!! ?, ucapku.

Dasar kamu Do, bawaanya keburu nafsu aja? Aghhhh? ?, ucap Teteh.

Lalu dengan perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu Teteh Dewi, sehingga tubuh Teteh Dewi berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua tangannya segera menggenggam kejantananku dan kemudian Teteh Dewi mulai menjilati kepala kejantananku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut Teteh Dewi.

Dijilatnya seluruh batang kejantananku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya kejantananku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya setengahnya saja yang dapat masuk ke mulut Teteh Dewi. Kurasakan dinding tenggorokan Teteh Dewi menyentuh kepala kejantananku.

Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga Teteh Dewi mengulum kejantananku. Kurasakan batang kejantananku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Merasa aku akan keluar, Teteh Dewi semakin cepat mengocok batang kejantananku.

? Tehhhh? Aghhhh? Oughhh? Aldo mau keluar nih? ? Aghhhh? ?, ucapku.

Tidak lama setelah berkata seperti itu pada akhirnya

? Crotttt? Crotttt? Crotttt? ?

Tersemburlah cairan itu dalam ejantananku, saat itu spermaku diminum, dan dijilati semua sisa-sisa spermaku, sampi-sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi kejantananku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi Melihat itu, Teteh Dewi mencium-cium kepala kejantananku dan menjilat-jilatnya hingga bersih.

Kemudian kutarik berdiri tubuh Teteh Dewi dan kudorong ke tempat tidur, sehingga Teteh Dewi terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang Teteh Dewi terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat. Teteh Dewi hanya menatap aku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah.

Lalu aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos. Kupegang batang kejantananku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kewanitaan-nya, sambil kutekan-tekan pelahan.

Karena merasakan gesekan-gesekan lembut kewanitaan Teteh Dewi, kejantananku mulai mengeras kembali. Lalu aku mulai meraih tangan Teteh Dewi dan ku tempatkan pada batang kejantananku. Dengan segera digengamnya kejantananku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kejantananku perlahan-lahan mulai masuk.

Sedikit demi sedikit kejantananku mulai masuk ke liang kewanitaan-nya Teteh Dewi. Terasa liang kewanitaan Teteh Dewi sangat sempit mencengkeram batang kejantananku. Dinding kewanitaan Teteh membungkus rapat batang kejantananku, kutekan lagi dan tubuh Teteh Dewi menggeliat?

Oughhhhhh? Aldooo? bee? besar sekali kontol kamu? pe? pelan-pelan? Aldooo? Oughhh??, ucapnya.

Teteh Dewi merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kejantananku makin dalam, terasa jepitan kuat dinding kemaluan Teteh Dewi yang menjepit rapat batang kejantananku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini,

Tehhhhh? ? Oughhh? enak Teh? Ssss? Aghhhhh??, desahku.

Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, Teteh Dewi memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini terlentang pasrah dibawahku.

Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga kejantananku terbenam makin dalam keliang kewanitaannya, dalam-dalam, lalu ujung kepala kejantananku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh Teteh Dewi mengejang ketika aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk. dan ku tempatkan pada batang kejantananku. Dengan segera digengamnya kejantananku dan diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala kejantananku perlahan-lahan mulai masuk.

Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha Teteh Dewi terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar liang kewanitaannya. Aku dapat melihat buah dada Teteh Dewi bergerak-gerak.
Payudara teteh saat itu bergerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk kejantananku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan Teteh Dewi dengan kuat menyedot kejantananku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kewanitaan Teteh Dewi menjepit kejantananku.

Kulihat wajah Teteh Dewi nampak makin memerah menahan Klimaks keduanya yang akan melandanya sebentar lagi,

Aaaaaaddduuuuuhhhhh? Aldoooo? Aaaagggghhhhhh? Oouggg? hhaa? hhaa? Aldoo ? Teteh Mau
keluar lagi ni Aldooo? Aghhhh? ?, desahnya menuju klimaks.

Dan tidak lama setelah itu,

? Syurrr? Syurrr? Syurrr? Syurrr? ?,

Akhirnya aku merasakan cairan hangat membasahi kejantananku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu Teteh Dewi menjerit-jerit kesakitan.

Meskipun liang kewanitaan Teteh Dewi telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran kejantananku yang besar. Tak kuhiraukan lagi suara Teteh Dewi yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku.

Kurasakan otot-otot kejantananku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang kejantananku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan Teteh Dewi akhirnya meruntuhkan pertahananku.
Sssss? Tehhhh? Oughhh? ?, desahku.

Keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan,

Crotttt? Crotttt? Crotttt? ?,

Terseemburlah spermaku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam liang kewanitaan Teteh Dewi, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi Teteh Dewi. Sementara kuubiarkan kejantananku tetap didalam kemaluan Teteh Dewi untuk merasakan sisa-sisa Klimaksku. Kurasakan kemaluan Teteh Dewi tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.
Teh, terima kasih ya udah mau puasin Aldo ?, ucapku dengan manja.

Dasar kamu Do, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak Teteh kamu sendiri kamu perkosa juga? !!!!?, ucapnya manja.

Iiihhhhh? Teteh? tapi Teteh senang juga? kaannnn ? ?????

Iya? siiihhh? !!!!!?, kata Teteh Dewi malu-malu.

Singkat cerita semenjak kejadian skandal itu, sikap Teteh Dewi terhadapku berubah 360 derajat, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan Paman dan adik Teteh Dewi. Aku dan Teteh Shinta sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap Teteh Dewi, apalagi Teteh Dewi melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati. Selesai.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Pemain Termahal Dalam Sejarah Manchester City

Pemain Termahal Dalam Sejarah Manchester City Indobet7,News - Beberapa daftar pemain termahal dalam sejarah yang pernah d...

Popular Posts

Blog Archive