Sabtu, 23 Maret 2019

Cewek Ini Gendong Anjing Saat Lari Maraton. Alasannya Haru!

Khemjira Klongsanun
Khemjira Klongsanun
Indobet7, Inspirasi - Salut! Prestasi pribadi penting, tapi berbuat baik lebih penting.

Selalu ada kejadian menarik dari setiap peristiwa yang terjadi. Salah satunya lomba lari maraton yang diadakan di Ratchaburi, Thailand Barat, yang diikuti oleh pelari cewek Khemjira Klongsanun. Bukan karena kemenangan, Khemjira dianggap spesial karena aksinya yang sangat terpuji!

Dilansir dalam Daily Mail, awalnya lomba tersebut sama seperti lomba marathon pada umumnya, yakni dipenuhi dengan atlet-atlet berbakat dari berbagai kelompok usianya.

Tapi yang jadi spesial, ketika itu Khemjira terlihat menggendong seekor anak anjing saat mengarungi lintasan marathon. Tentu saja ini tergolong aneh, mengingat saat berada di garis start, Khemjira tidak membawanya.

Chombeung
Chombeung
Usut punya usut, ternyata anak anjing tersebut ditemukan Khemjira di pinggir jalan. Dalam ceritanya, Khemjira menyebut jika dia menemukan anak anjing tersebut di tepi jalan yang cukup sepi dan tidak ada rumah penduduk di sekitarnya.

Kondisi anak anjing tersebut sangat menyedihkan. Dia menduga anak anjing tersebut diterlantarkan oleh pemiliknya, dan sepanjang lintasan tidak ada pelari yang memindahkannya ke tempat yang lebih aman.

Melihat hal itu, Khemjira akhirnya memutuskan untuk menepi sebentar. Awalnya sih dia hanya ingin memindahkan anak anjing tersebut ke pinggir jalan, atau tempat yang lebih aman. Tapi karena kondisinya cukup lemah, dia pun memutuskan untuk membawanya sepanjang sisa lintasan.

Khemjira menjelaskan jika dia akan mengadopsinya, dan menjadikan anak anjing tersebut sebagai temannya. Bahkan kini anak anjing tersebut sudah punya nama, Chombeung, sesuai dengan nama lomba marathon yang mempertemukan Khemjira dengan hewan peliharaannya tersebut.

Chombeung - Khemjira Klongsanun
Chombeung - Khemjira Klongsanun
Sebagai bukti keseriusannya dalam memelihara si anak anjing tersebut, Khemjira bahkan sudah membawa Chombeung untuk mendapat pemeriksaan dokter hewan, mendapatkan vaksin, dan menyediakan berbagai perawatan khusus demi memanjakan si anak anjing tersebut.

Kini Chombeung telah hidup nyaman dan bahagia dengan Khemjira. Dalam sebuah wawancara, Khemjira mengaku jika membawa seekor anak anjing selama lari maraton merupakan hal yang cukup menantang. Butuh stamina dan keahlian khusus agar anak anjing tersebut tetap nyaman, dan dia bisa tetap fokus menjaga nafasnya.

Gimana nih menurutmu Gaes, kira-kira cocok nggak kalau ini jadi challenge terbaru, lomba marathon sambil gendong binatang peliharaan. Keren, 'kan?


Share:

Jumat, 22 Maret 2019

Hati-Hati, Ini 4 Bahaya Jika Sering Tidur di Dekat Ponsel

Smartphone
Smartphone
Indobet7, News, Inspirasi - Siapa yang kalau bangun tidur langsung mengecek ponsel atau smartphone? Bobo yakin ada teman-teman yang pernah melakukan hal itu.

Tidak bisa dihindari keberadaan smartphone sudah seperti menjadi bagian dari hidup kita.
Hampir sepanjang hari kita menggunakan smartphone untuk mencari informasi, membuka media sosial, membaca, atau main game.

Karena sudah terlalu asyik, terkadang saat waktu tidur tiba kita masih bermain smartphone dan bahkan membawanya tidur.

Padahal, tidur di dekat smartphone tidak baik, lo, teman-teman. Yuk, cari tahu bahaya tidur di dekat smartphone!

Bahaya Tidur di Dekat Smartphone

1. Mengurangi Kemampuan Konsentrasi

Pernahkah teman-teman ketiduran sambil memegang smartphone? Atau malah sengaja menaruhnya di bawah bantal?

Ternyata sebanyak 63 persen pemilik smartphone tidur dekat smartphone yang ditaruh tepat di samping tempat tidur.

Hal ini dilakukan agar kita mudah mengambil smartphone atau agar bunyi alarm yang kita pasang terdengar jelas.

Namun, tahukah teman-teman kalau meletakkan ponsel di bawah bantal ataupun dekat dengan kita ketika tidur berbahaya bagi kesehatan?
Menurut penelitian, smartphone jenis apapun mengeluarkan radiasi elektromagnetik yang mampu mempengaruhi kualitas tidur kita.

Efek dari radiasi smartphone yang mempengaruhi kualitas tidur ini menyebabkan aliran darah yang diarahkan ke otot-otot kita tidak maksimal.

Karena itu, di pagi hari, kita mungkin mengalami kurang konsentrasi dan kehilangan focus.

2. Beberapa Kasus Smartphone yang Meledak

Kasus smartphone terbakar atau meledak memang sudah banyak disebarkan pada media massa.
Namun masih saja banyak yang menaruh smartphone di bawah bantal, terlebih saat sedang dalam kondisi mengisi baterai dan dibiarkan semalaman.

Kasus ini memang jarang terjadi.
Walaupun begitu, menaruh smartphone di bawah bantal sambil mengisi daya baterai sangat tidak disarankan.

Karena smartphone dalam kondisi mengisi daya baterai akan cenderung cepat panas saat ditaruh di tempat yang tertutup seperti bantal, selimut, ataupun bahan tebal lainnya sehingga berisiko memicu kebakaran.

3. Membuat Kita Sulit Tidur

Smartphone, tablet, televisi, dan gadget lainnya akan memancarkan cahaya biru.

Sebuah penelitian menunjukan bahwa cahaya biru bisa menghambat produksi hormon melatonin, hormon yang berfungsi mengatur tidur, dan mengganggu ritme sirkadian (jam biologis tubuh).

Hal ini terjadi karena cahaya biru memancarkan gelombang panjang seperti pada siang hari, sehingga membuat tubuh berpikir jika masih siang sepanjang waktu, padahal nyatanya sudah malam.

Ketika kita ingin tidur, pastikan kita sudah mematikan semua elektronik dua jam sebelum waktu tidur. Lebih baik lagi, simpan smartphone dan laptop di ruangan lain.

4. Gangguan Sel Otak

Menurut World Health Organization (WHO), radiasi smartphone bisa memengaruhi susunan saraf manusia hingga dapat menyebabkan kanker atau tumor, terutama pada anak-anak seperti kita.
Hal ini disebabkan oleh kulit kepala dan tengkorak kita lebih tipis daripada orang dewasa, dan lebih rentan terhadap radiasi.

Seorang ilmuwan kesehatan lingkungan, Dr. Devra Davis, mengatakan bahwa paparan radiasi dari handphone dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak.

Sel-sel otak yang rusak membuat risiko terjangkitnya berbagai jenis penyakit meningkat, karena otak adalah pusat pengendalian tubuh.

Artikel Asli
Share:

Game PUBG dalam Kepungan Wacana Pelarangan

Game PUBG
Game PUBG
Indobet7, News - Brenton Tarrant jadi buah bibir banyak orang di seluruh dunia. Warga Australia ini menembaki orang-orang yang berada di dua masjid, Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, di Kota Christchurch, Selandia Baru. Sebanyak 49 orang merenggang nyawa karena aksi kejinya.

Kabar sempat beredar, pelaku yang masih berusia 28 tahun tersebut belajar menembak dan terinspirasi melakukan teror salah satunya melalui video game dengan genre battle royale macam Fortnite. Namun, game lainnya seperti PUBG alias PlayerUnknown’s Battlegrounds sempat jadi "kambing hitam". Namun, kabar ini hanya isapan jempol. Tarrant mengaku tak terpengaruh oleh game macam Fortnite maupun PUBG dalam aksi kejinya.

Ia justru terinspirasi dari Anders Behring Breivik, seorang teroris dari Norwegia yang menjadi pelaku pemboman di Oslo dan penembakan yang menewaskan 77 orang pada 2011 silam.

Namun, kabar soal PUBG maupun Fortnite dengan aksi Tarrant kadung menyebar di media sosial. Respons bermunculan, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat yang mewacanakan untuk menyikapi keberadaan game PUBG. MUI Pusat pun sudah merespons, Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid Sa'adi termasuk yang berpendapat game macam PUBG menimbulkan mudarat.

Di Malaysia, beberapa kelompok masyarakat di sana, mendesak pemerintah mengharamkan PUBG, yang dianggap dapat memberi inspirasi tindakan keji bagi para pemainnya.
Di luar persoalan respons publik setelah kejadian Kota Christchurch dengan game macam PUBG, ada pertanyaan mendasar, apakah game bertema battle royale bisa memengaruhi penggunanya melakukan kekerasan?

PUBG, Free Fire, Fortnite dan lainnya merupakan video game bergenre battle royal game, suatu game yang memadukan elemen survival atau bertahan hidup dan eksplorasi.

Phil Hornshaw, dalam tulisannya “Thehistory of Battle Royale: From mod to worldwide phenomenon,” mengatakan setidaknya ada dua hal yang harus tersedia dalam battle royal game: peta yang besar, sebagai tempat virtual pemain bermain game dan “start with nothing,” pemain dituntut bermain game dari ketiadaan menjadi kejayaan.

Dua hal itu, tulis Carter Melrose dalam “Why Battle Royale Games Like Fortnite Are Everywhere” membuat PUBG, beserta game sejenis jadi populer segala umur.

“Alasan populernya game tipe ini cukup banyak. Penekanan Battle royale pada pencapaian individu, tidak terpaku pada capaian tim, menjadikannya (pemainnya) dan penontonnya mudah dan terpesona. Game tipe ini sangat cocok di zaman Twitch (layanan video streaming game),” tulis Melrose.
Tipe game yang Twitch-friendly didukung dengan fakta bahwa PUBG dan game sejenis lainnya bisa dimainkan di berbagai perangkat, seperti konsol, PC, hingga ponsel. Segala kemudahan ini membuat game PUBG naik daun, hingga pertengahan 2018, game PUBG telah diunduh 50 juta kopi, untuk konsol seperti Xbox dan PC. Versi mobile game ini meroketkan jumlah pengguna PUBG menjadi 400 juta pengguna.

Jika ditarik lebih jauh, battle royal game merupakan "turunan" dari jenis game bernamafirst-person shooter, jenis game yang telah lahir sejak awal dekade 1970-an.

First-person shooter (FPS) merupakan tipe video game yang berpusat tentang pertempuran bersenjata dalam perspektif orang pertama. Tipe video game FPS bermula dari game bernama “Maze War,” yang dikembangkan pada 1973 oleh Greg Thompson, Steve Colley, dan Howard Palmer, siswa sekolah menengah yang tergabung dalam program studi kerja NASA yang mengembangkan program visualisasi dinamika fluida untuk desain pesawat ruang angkasa.

Namun, kepopuleran FPS baru terjadi pada awal dekade 1990-an. Video game bernama “Doom” dirilis dan menuai sukses di pasaran. Tercatat, dua juta kopi Doom terjual. Media teknologi Wired kala itu bahkan menjuluki Doom sebagai “video game komputer paling populer sepanjang masa.”
Game PUBG
Game PUBG
Mengapa Doom dan FPS sukses?

Maria Konnikova dalam tulisannya di New Yorker menyebut salah satu kunci kesuksesan tipe game FPS ialah konsep bernama “flow.” Dalam konsep tersebut, pemain dituntut untuk “terus berjalan,” seperti kehidupan yang pada akhirnya mengeluarkan perasaan nostalgia seperti “ini sangat menyenangkan” dan “ini sangat menggembirakan. Konsep flow sama seperti konsep kehidupan.
Lennart Nacke, Direktur Games and Media University of Toronto, sebagaimana dikutip Konnikova menegaskan bahwa FPS dengan konsep flow-nya “seperti kehidupan, penuh dengan keputusan yang mesti dibuat” untuk memenangkan permainan.

Sayangnya, FPS dan turunannya seperti battle royal game menitikberatkan permainan pada aspek kekerasan. Menggunakan senjata virtual untuk mengalahkan lawan-lawannya, seperti yang ditegaskan John Carmack, salah satu pencipta Doom. Ia bilang video game FPS adalah “kamu (pemain game FPS) adalah senjata bergerak.”

Simon Darveau, Direktur Kreatif game The Darwin Project, menyebut game FPS, termasuk battle royal game, merupakan game yang sangat kuat menyentuh elemen psikologi sosial penggunanya.
“Anda bisa disalahgunakan secara psikologis dalam sebuah game. Dan saya merasa itu adalah pengalaman yang paling kuat dari bermain FPS,” kata Simon.

Dalam paper berjudul “Virtual Violence or Virtual Apprenticeship,” yang ditulis Bonnie Phillips, video game memang tidak membunuh manusia. Namun, kekerasan yang hadir dalam bermain video game, khususnya dari game bertipe FPS, bisa saja berkorelasi dengan dengan dunia nyata. Persoalan ini sudah menjadi perhatian regulator di seluruh dunia.

Masih dalam paper itu, di Indianapolis, Amerika misalnya, ada kenaikan kekerasan yang dilakukan remaja yang tercipta atas “bantuan” video game. Akibatnya, melalui “Indianapolis City-County General Ordinance, No. 72, section 831-1” negara bagian itu membatasi ruang peredaran video game yang menghadirkan kekerasan dalam permainannya. Di antaranya dengan pembatasan usia, dan pengendalian dengan pencantuman label.

Di Indonesia, pemerintah juga tak tinggal diam, Kemkominfo pada Juli 2016 menerbitkan Peraturan Menteri No 11 Tahun 2016 tentang [Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik](https://jdih.kominfo.go.id/produk_hukum/view/id/540/t/peraturan menteri komunikasi dan informatika nomor 11 tahun 2016 tanggal 20 juli 2016) yang mengatur mengenai klasifikasi atau sistem rating game yang dinamakan Indonesia Game Rating System atau IGRS. IGRS diatur berdasarkan kelompok usia, yaitu 3 tahun, 7 tahun, 13 tahun, 18 tahun, dan Semua Usia. Hal yang diatur antara lain mengenai muatan yang ditampilkan dalam permainan sehingga orangtua bisa mengawasi.

Bila melihat dari karakternya, game macam PUBG diklasifikasikan ke dalam kelompok usia 18 tahun atau lebih karena memuat "konten yang terdapat pada produk menampilkan unsur kekerasan pada tokoh animasi yang dapat menyerupai manusia" (Pasal 8).

Artinya penyikapan pada game yang berpotensi mendorong pada tindakan kekerasan masih bersifat pengendalian, bukan pelarangan.

Apakah game PUBG dan sejenisnya perlu sampai harus dilarang? Tentu, perlu kajian yang jelas sebelum mengambil sikap. Persoalannya, saat ini pihak terkait hanya saling menunggu, termasuk regulator.

"Kalau memang dirasakan merusak, dikaji dulu dan silakan diajukan ke Kominfo. Kami siap menindaklanjuti permintaan pemblokirannya," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani.


Share:

Potret Memesona Jang Nara yang Masih Bak ABG

Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)
Indobet7, News - Jang Nara (장나라) merupakan salah satu aktris wanita Korea Selatan (Seoul) yang berhasil menarik perhatian publik dengan akting serta parasnya yang memikat. Jang Nara sudah berkarier sejak usia remaja, siapa sangka ia telah menghias layar kaca kurang lebih selama 20 tahun.

Jang Nara pernah muncul bersama ayahnya di serial yang berjudul "Les Miserables" pada waktu masih bersekolah dan setelah beradu akting bersama sang ayah, Jang pun tertarik untuk menjadi artis. Jang Nara kemudian menjadi bintang iklan televisi dibeberapa produk pada masa-masa SMA nya. seelah itu ia menjadi seorang mahasiswi di Universitas Chungang pada bulan Maret 2000 dan mengambil jurusan teater pada fakultas seni rupa.

Tepat pada tanggal 18 Maret 2019 lalu, bintang "The Last Empress" ini merayakan ulang tahunnya yang ke-38 tahun, memasuki usia kepala empat sebentar lagi Jang Nara semakin awet muda dan memesona.

Yuk intip deretan

Potret Memesona Jang Nara yang Masih Bak ABG

1.Jang Nara lebih banyak menghabiskan waktu dengan kucing peliharaannya
Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)
2. Berambut pendek Jang Nara terlihat masih bak remaja ya
Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)
3.Jago akting dan punya suara sangat merdu
Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)
4. Lee Hyuk & Jang Nara The Last Empress/Empress Dignity
Lee Hyuk & Jang Nara
Lee Hyuk & Jang Nara
5.Chang Ki-Yong & Jang Nara Go Back Couple
Chang Ki-Yong & Jang Nara
Chang Ki-Yong & Jang Nara
6.tetap memesona
Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)
7.Jang Nara Termasuk artis yang jauh dari skandal juga nih
Jang Nara (장나라)
Jang Nara (장나라)

Share:

Featured Post

Pemain Termahal Dalam Sejarah Manchester City

Pemain Termahal Dalam Sejarah Manchester City Indobet7,News - Beberapa daftar pemain termahal dalam sejarah yang pernah d...

Popular Posts

Blog Archive